Social Items

Showing posts with label Nikmati hidupmu. Show all posts
Showing posts with label Nikmati hidupmu. Show all posts
fawazgates.com

Menikmati setiap proses

Setelah sebelumnya kita memahami bahwa tidak ada yang instan di dunia ini, maka langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah menikmati setiap pro- ses yang tengah kita jalani

Ya, hanya dengan menikmati setiap proses itulah, maka hidup akan terasa nikmat dan indah. Karena, kita sadar sepenuhnya bahwa tugas kita adalah ber usaha sepenuh daya, berikhtiar secara maksimal. Ada- pun hasil dari usaha dan ikhtiar kita itu diserahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Memberi keputusan, yaitu Allah Swt. Karena Dialah Yang Maha Menge- tahui yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Jadi, apa pun hasil akhir dari usaha kita itu, adalah yang terba- ik menurut-Nya. Meski mungkin tidak sesuai degan harapan kita. Yakinlah, ada hal lain yang sudałh disiapkan oleh-Nya untuk kita.

Banyak aktivitas hidup sehari-hari yang kita laku kan tanpa menikmatinya. Sejak kita bangun tidur di pagi hari hingga kita kembali tidur di malam hari, banyak hal yang kita lewati begitu saja tanpa pernah kita berusaha untuk menikmatinya.

Padahal, jika setiap momen dalam hidup ini kita nikmati sepenuh hati, segenap rasa, maka hidup ini akan terasa begitu nikmat dan indah. Saat kita makan, misalnya. Sesekali cobalah menikmati setiap kunyahan kita. Kita rasakan bahwa betapa nikmatnya rezeki yang diberikan Allah kepada kita berupa makanan yang kita santap dengan lahap itu. Saat kita minum, coba- lah kita menikmati setiap tetes air yang mengalir membasahi kerongkongan, sehingga menghilangkan rasa dahaga kita

Ketika kita berada di tempat kerja; di kantor, di sekolah, di kampus, di pasar, di sawah, di tanah la dang, dan di mana saja tempat kerja kita berada, nikmatilah momen itu. Syukuri bahwa saat ini kita sudah mendapat pekerjaan. Di luar sana banyak orang yang berharap mendapat pekerjaan, tetapi hingga saat i masih menganggur. Dengan menikmati pekerjaan g kita miliki, maka kita akan bekerja sepenuh hati.

Saat kita tengah menjalani sebuah usaha, nik matilah setiap proses yang kita alami dan rasakan dalam menjalani usaha tersebut. Kerasnya persaingan di dunia usaha yang kita jalani, susahnya menjaga kepercayaan, sulitnya meyakinkan orang lain tentang produk atau jasa yang kita tawarkan, dan beragam lika liku serta pernak-pernik dunia usaha menjadi se buah pelajaran serta pengalaman berharga yang patut kita nikmati.

Ketika kita menjalani kehidupan berumah tangga dengan pasangan, nikmatilah setiap prosesnya. Mem bangun rumah tangga dari nol, menghadapi beragam ujian dan cobaan hidup, menjalani suka-duka, susah- senang, derita-bahagia bersama, diselingi riak-riak ke- cil pertengkaran karena salah paham dan komunikasi yang kurang baik, misalnya, kesemua itu adalah per- nak-pernik dan romantika hidup berumah tangga yang menghadirkan banyak pelajaran, yang harus kita nikmati

Singkatnya, apa pun yang kita alami dan rasakan dalam hidup ini, syukurilah, nikmatilah setiap proses- nya. Hanya dengan cara seperti inilah kita bisa ben benar meras yang kita jalani ar akan betapa nikmat dan indahnya hidup.

Yang benci kita, yang memperhatikan kita

"Ridla al-naas ghayatun la tudrak". Demikan sebuah ungkapan bijak menyatakan. Mengharap semua orang ridha dan senang kepada kita itu suatu hal yang mus tahil, sesuatu yang tak mungkin terwujud. Ya, akan selalu ada like and dislike, pro dan kontra, puji dan caci, puja dan cerca.

Jangankan kita, seorang manusia yang dhaif, me- miliki berjuta kelemahan, hatta Rasulullah saw. saja, sosok agung nan mulia, yang dipilih Allah untuk menjadi salah satu utusan dan juga kekasih-Nya, de- ngan beragam keistimewaan dhahiran wa bathinan yang dimilikinya, hingga saat ini, setelah wafat ber- abad lamanya, masih banyak juga yang membencinya.

Inilah hidup. Ada cinta ada benci, ada puja caci. Tak perlu bangga apalagi jumawa ketika kita di. sanjung dan dipuja. Pun tak usah risau apalagi galau jika kita dihina dan dicaci. Yang terpenting adalah kita tetap berada di jalan yang benar, melakukan se suatu yang baik dan benar, berharap hanya kepada Yang Maha Rahman. Abaikan komentar-komentar si nis dan negatif tentang kita. Tak perlu buang-buang energi menanggapi komentar miring orang-orang yang tidak senangan kepada kita

Harusnya kita berterima kasih kepada para pem benci (haters), karena mereka bisa kita jadikan mitra untuk melihat kekurangan kita, kemudian kita benahi dan perbaiki. Kita juga harus berterima kasih kepada mereka, karena di saat orang lain sibuk dengan urus annya masing-masing, mereka, para pembenci kita justru sibuk memikirkan kita. Mereka tak ubahnya bak malaikat pencatatan keburukan kita. Mereka memperhatikan setiap ucapan, tindakan serta perilaku kita

Sungguh, kita beruntung jika memiliki pembenci karena ada orang yang begitu perhatiannya kepada kita. Para pembenci itu rela meluangkan waktu dan pikirannya untuk memikirkan kita. Padahal, kita talk pernah memikirkan mereka. Mereka begitu baiknya mencurahkan energi hidupnya untuk memperhatikan kehidupan kita. Sehingga seringkali mereka lupa memperhatikan diri mereka sendiri. Sungguh luar bia- sa mereka itu.

So, sepatutnya kita sadari bahwa yang membenci kita adalah yang memperhatikan kita. Kita doakan semoga mereka selalu diberi rahmat dan kasih sayang oleh Allah Swt. Dan kita doakan semoga mereka juga tergugah hatinya untuk memperhatikan diri mereka yang sudah lama mereka lupakan.

fawazgates.com

Menikmati setiap proses

fawazgates.com

Belajar sepanjang hayat

"Carilah ilmu dari buaian hingga ke liang lahať. Demikan sabda Sang Nabi saw. Pesan singkat namun sarat makna tersebut hendaknya menjadi prinsip hi- dup yang terus kita pegang erat.

mencari ilmu atau dalam bahasa yang lebih umum disebut dengan belajar, adalah sebuah proses untuk menggali serta mendapatkan pengetahuan. Dengan belajar, kita akan mendapatkan informasi ten- tang sesuatu atau bahkan banyak hal yang selama ini belum kita ketahui. Dengan belajar wawasan kita ber- tambah, pikiran kita terbuka, serta nalar kita ber- kembang.

Belajar dalam pengertiannya yang luas, tidak di- batasi oleh sekat-sekat formal, seperti jenjang pendi- dikan yang lazim kita jumpai saat ini, yaitu dari ting- kat Pendidikan Anak Usia Dini, hingga PerguruanTinggi. Pun tidak dibatasi olch sa Belajar ada proses yang terus berlanjut sejak kita hadir di du ini ngga kelak saatnya meninggalkan dunia ini. ajar yang sesungguhnya adalah sepanjang masa, sepanjang hayat.

Pertanyaannya kemudian, mengapa setiap manusia diperintahkan untuk belaja Jawaban atas pertanyaan ini sudah disampaikan oleh Al-Qur'an dalam sejumlah ayatnya. Di antara yang sering dikutip oleh para ulama adalah ayat tentang akan diangkatnya derajat orang yang berilmu-setelah sebelumnya beriman-beberapa derajat, seperti termaktub dalam al-Mujadilah: 11).

Jawaban lain atas pertanyaan di atas disampaikan oleh para ulama yang menyatakan bahwa setiap ma nusia harus membekali diri dengan ilmu pengetahuan. Karena hanya dengan ilmu pengetahuan yang mema dai, seseorang dapat memahami hakikat dirinya. Lebih jauh, dengan ilmu pengetahuan yang terus menerus bertambah dan berkembang, seseorang dapat menge nal dan mendekatkan diri kepada Tuhannya. Tanpa ilmu pengetahuan, seseorang akan kesulitan mema- hami hakikat dirinya, lebih-lebih memahami hakikat Tuhannya.

Pesan Sang Nabi saw. di didasarkan pada wahyu yang pertama kali turun dan diterima beliau yaitu perintah untuk membaca. Iqra! Bacalah! Perintah ini, meski singkat, tetapi mengandung sebuah pesan yang sangat dalam.

Para ulama menafsirkan makna dari perintah embaca ini, dengan dua kategori ayat yang harus dibaca dan dikaji oleh umat manusia. Pertama, ayat ayat qauliyah/kitabiyah berupa firman Tuhan yang ter maktub dalam teks Al-Quran, dan ayat-ayat kauniyah, yaitu seluruh fenomena alam yang terhampar di jagat raya ini.

Komaruddin Hidaya dalam bukunya Agama Punya Seribu Nyawa menambahkan, selain ayat ayat kitabiyah dan kauniyah, juga penting bagi kita mem- baca ayat-ayat nafsiyah, yaitu wahyu yang tertulis di dalam diri manusia, dan juga ayat-ayat itimaiyah- tarikhiyah, yaitu wahyu yang bekerja melalui hukum sejarah.

Dari beberapa keterangan di atas, dapat dipahami bahwa proses belajar, yang salah satunya dimulai de- ngan aktivitas membaca adalah sebuah langkah untuk meneliti, menelaah, serta mendalami ilmu pengetahu an yang tersebar di muka bumi.

Belajar sepanjang hayat akan menuntun kita pada kedewasaan berpikir, bersikap, dan bertindak. Aktivitas belajar ini akan bernilai tinggi dan membawa manfaat serta keberkahan jika dilandasi oleh nilai-nilai spiritual dengan menyertakan Tuhan dalam setiap kesempatan, setiap saat dan waktu. Sebab jika tidak, maka proses belajar sepanjang hayat in hanya akan melahirkan orang-orang yang berpengeta nggi berwawasan luas, tetapi minus nilai-nilai spiritual. Walhasil, akan lahir manusia-manusia arogan, yang merasa apa yang mereka pahami hanya bersumber pada logika dan rasionalitas semata.

So, belajarlah sepanjang hayat dengan selalu me- nyertakan Tuhan bersama kita..

Tidak ada yang instan

Salah satu penyakit masyarakat modern saat ini adalah hasrat untuk mendapatkan segala sesuatu secara cepat, sesegera mungkin, instan. Ya, inilah yang kemudian menjadikan masyarakat modern lebih memilih cara cara praktis-pragmatis, yang seringkali tidak memedu likan bahkan mengabaikan proses serta prosedur yang berlaku.

Walhasil, imbas dari sikap ini adalah hilangnya sikap sabar melalui tahap demi tahap, serta proses demi proses yang memang harus dijalani untuk sebuah tujuan tertentu. Efek yang paling fatal dari gaya hidup (life style) serba instan ini adalah hilangnya penghar- gaan atas sebuah proses.

Masyarakat modern tidak lagi peduli betapa pen- tingnya 'kristalisasi keringat, betapa berharganya arti sebuah jerih payah, betapa bernilainya makna perju angan yang dihiasi dengan indahnya pengorbanan. Yang mereka tahu adalah bahwa hasil akhir atau tuju- an mereka tercapai, hasrat mereka terpenuhi, keingin an mereka trwujud. Apa pun cara dan bagaimana pun memperolehnya tidaklah penting. Inilah penyakit yang diidap oleh sebagian besar masyarakat modern dewasa ini.

Padahal, jika kita kaji lebih jauh, segala sesuatu yang diperoleh dengan cara-cara instan itu akan tidak akan bertahan lama sangat mudah hilang, dan cepat berakhir. Kalau pun kemudian bisa bertahan agak lama, maka yang hilang darinya adalah nikmat serta keberkahannya.

Untuk memahami betapa pentingnya sebuah pro ses, sesekali lihatlah diri kita masing-masing. Bagai mana proses hadirnya kita di dunia ini. Bermula dari pertemuan sel sperma dan sel telur kedua orang tua kita, yang disebut dengan proses reproduksi. Kemu- dian setelah menjadi jann, kita berada di rahim ibu hingga sembilan bulan. Selanjutnya ibu kita menjalani proses persalinan.

Setelah lahir ke dunia, kita melalui masa demi masa. Dari masa bayi, balita, anak-anak, remaja, de- wasa hingga tua. Kemudian pada saatnya nanti kita akan kembali menghadap ke haribaan Sang Khalik yang menciptakan kita, yaitu Allah Swt.

Inilah proses alamiah yang dialami dan dirasakan setiap manusia. Memang. di tengah proses itu, kadang ada yang tidak sampai hadir ke dunia, karena meninggal di dalam kandungan sang ibu. Ada juga yang ahir ke dunia, tetapi meninggal di usia bayi. Atau kembali menghadap Sang Pencipta di usia, anak-analk, remaja atau dewasa, tidak sampai usia tua. Tetapi yang jelas, dari perjalanan hidup manusia itu kita bisa belajar arti sebuah proses.

Sesekali coba kita lihat pula proses metamorfosis dari kepompong hingga menjadi kupu-kupu. Ada masa yang harus dilalui sang kepompong untuk menjadi kupu-kupu. Jika di masa yang belum saatnya menjadi kupu-kupu, baru menjadi ulat kemudian dipaksa ke luar dari tempatnya, tentu sang kepompong tidak akan pernah menjadi kupu-kupu.

Nah, dari dua contoh tersebut, kita bisa belajar tentang hukum atau ketentuan Allah yang sering di sebut dengan sunnatullah itu. Yaitu tidak ada yang instan di dunia ini. Bahkan, untuk menikmati se bungkus mie instan pun tidak bisa instan. Kita harus memasaknya dulu hingga matang, lengkap dengan bumbu-bumbunya. Kecuali kalau kita mau langsung mengonsumsinya secara mentah-mentah, he. he

So, sekali lagi, tidak ada yang instan di dunia ini.

fawazgates.com

Belajar sepanjang hayat

fawazgates.com

Berkarya tanpa jeda 

Tak bosan-bosannya saya mengutip sabda Nabi saw. yang sangat inspiratif dan visioner ini. Karena kandungan maknanya yang demikian dalam, jika kita mau merenungkannya.

Ya, manusia terbaik adalah yang kehadirannya memberi manfaat bagi orang lain di sekitarnya. Ma- nusia terbaik adalah yang keberadaannya menjadi so lusi, memberi rasa nyaman, menghadirkan kedamaian, menciptakan kesejukan.

Contoh paling nyata adalah Rasulullah saw. Ke hadiran beliau di setiap tempat dan kesempatan selalıu memberikan kesejukan, melahirkan kedamaian, men ciptakan kenyamanan. Tidak pernah sekali pun terba- ca dalam sejarah hidup beliau (Sirah Nabawiyah) bahwa keberadaan Rasulullah saw. membuat kekacauan, men- ciptakan keonaran, menghadirkan ketidaknyamanan.

Beliau adalah prototipe ideal manusia sempurna (insan kami Ucapan, tindakan serta sikap beliau adalah cerminan ajaran Al-Quran yang meru terjemah atas ungkapan "rahmatan li al-'alamiin" (rah mat untuk semesta). Sehingga tepat jika beliau disebut sebagai Ihe Living Qur'an" atau Al-Qur'an Hidup.

Pesan Rasulullah saw. di atas adalah bahwa hern daknya setiap orang selalu berusaha untuk menghadir kan manfaat bagi orang lain. Karena dengan cara inilah ia akan memperoleh posisi yang mulia di mata manusia, dan tempat yang tinggi di sisi Allah SWT.

Di antara cara untuk menghadirkan manfaat, menjadi solusi, serta memberi kebaikan kepada orang lain adalah dengan berkarya untuk kemanusiaan. pun profesi serta pekerjaan kita, sedapat mungkin untuk menghadirkan karya yang bermanfaat bagi orang lain.

Jika kita seorang ustadz guru atau dosen yang punya tanggung jawab untuk mendidik para santri, murid, serta mahasiswa, maka tunaikanlah tugas mulia tersebut dengan penuh dedikasi, berlandaskan niat yang tulus, berorientasi ibadah, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai profesionalisme.

Berikanlah kepada anak didik kita kemampuan terbaik yang kita miliki. Ciptakan karya serta inovasi dalam mengajar dan mendidik mereka, agar mereka pun kelak menjadi manusia-manusia terbaik.

Jika kita seorang pedagang, berikanlah pelayanan terbaik untuk para pembeli dan pelanggan kita. Hiasi ara berdagang kita dengan kejujuran, keramahan, serta meningkatkan kualitas produk barang dagangan kita, sehingga pembeli dan pelanggan kita merasa aman erus dan nyaman.

Jika kita seorang pejabat yang tengah berkuasa, maka berkhidmatlah, layanilah rakyat sepenuh hati segenap rasa. Bukankah Rasulullah saw. pernah meng ingatkan, "Sayyid al-qaumi khaadimuhum? Pemimpin suatu kaum adalah pelayannya. Buatlah aturan serta kebijkan yang berpihak kepada rakyat, bukan hanya menguntungkan kelompok serta golongan tertentu saja.

Jika kita seorang penulis, lahirkanlah karya-karya yang bermanfaat, menggugah dan menginspirasi ma- syarakat pembaca. Jangan pernah meracuni pembaca dengan karya-karya yang merusak moral, menghan curkan masa depan anak bangsa.

Teruslah berkarya tanpa jeda, untuk menghadir kan manfaat sepanjang masa.

Singkatnya, apa pun pekerjaan dan profesi yang saat ini kita miliki jalani, jadikan sebagai ladang amal untuk beribadah kepada Allah, berbuat baik ke- pada sesama, menebar manfaat sebanyak-banyaknya.

Berbagi tiada henti

Salah satu aktivitas yang dapat menghadirkan kebaha- giaan dalam diri adalah berbagi. Ya, berbagi dala arti yang seluas-luasnya. Dari yang paling sederhana dan ringan seperti berbagi senyuman kepada setiap orang yang kita jumpai, hingga yang paling sulit dan berat, yaitu berbagi harta dan materi kepada mereka yang membutuhkan.

Padahal, kalau kita sadari, di dunia ini tidak ada yang tak berbalas. Ada hukum kausalitas atau sebab akibat, ada hukum yang disebut dengan law of attrac tion, yaitu hukum tarik menarik, juga ada hukum kekekalan energi.

Dalam hukum kausalitas, setiap yang kita lakukan (aksi) akan menghasilkan suatu akibat (reaksi). Reaksi itu akan muncul karena adanya aktivitas atau aksi yang sebelumnya kita lakukan. Dalam kasus seder- hana, seperti berbagi atau memberi senyuman kepada orang lain, misalnya, maka akibat atau reaksi yang uncul adalah balasan senyuman dari orang a ajak senyum. Meski, dalam kasus tertentu, da orang yang tidak membalas senyuman kita, karena h bermasalah' dengan kita. hc.he.. Tetapi, lazim- nya, dalam kondisi normal dan tak bermasalah, se nyuman yang kita berikan akan berbalas senyuman pula.

Dalam hukum law of attraction atau hukum tarik menarik disebutkan bahwa kita dapat mewujudkan apa pun keinginan atau impian kita, jika kita berpikir positif dan yakin bahwa kita mampu mewujudkannya. Jika kita ingin mewujudkan rasa bahagia dalam diri, kita pun bisa menghadirkannya secara nyata, melalui cara kita berpikir, bersikap dan bertindak. Salah satu nya adalah dengan berbagi kebahagiaan. Rasa bahagia yang kita hadirkan untuk orang lain, akan menarik perasaan bahagia ke dalam diri kita.

Dalam hukum kekekalan energi dinyatakan bahwa energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnah kan. Energi hanya dapat diubah dari satu bentuk ener- gi ke bentuk yang lainnya. Makna tersirat dari hukum ini adalah ketika energi positif kita berikan, bagikan, salurkan kepada orang lain atau alam sekitar, maka energi itu hakikatnya tidak pernah hilang, akan tetap tetapi mengambil bentuk yang lain. Misalnya, kita memberikan sedekah berupa uang atau materi kepada orang lain, maka energi yang kita keluarkn tu tidak akan pernah hilang. tetapi berubah menjadi bentuk energi yang lain, seperti rasa bahagia dan tenang salnya. Demikian juga halnya, ketika kita menebar energi negatif ke orang lain atau alam sekitar kita, maka energi itu tidak akan hilang, tetapi berubah bentuk menjadi energi lain, seperti perasan tidak tenang, was-was dan khawatir. Demikian seterusnya.

Setelah kita memahami beberapa hukum alam yang akan selalu hadir melingkupi kehidupan kita, kita pun bisa memilih untuk menghadirkan kebaikan dan kebahagiaan dalam hidup ini. Dan salah satu cara efektif untuk mengundang energi kebaikan dan keba hagiaan dalam hidup ini adalah dengan berbagi tiada henti. Tentu berbagi hal-hal positif yang akan mem buat hidup kita lebih baik dan bahagia.

Berbagi tiada henti atas sikap ramah yang kita milki. Berbagi tiada henti atas ilmu yang Berbagi tiada henti atas harta dan materi yang kita miliki. Kesemua itu akan menghadirkan kebaikan, ke berkahan dan kebahagiaan hidup, tidak hanya di dunia ini, tetapi hingga ke akhirat nanti kita punyai.

fawazgates.com

Berkarya tanpa jeda

Fawazgates.com

Perbaiki diri setiap hari

Sabda Nabi Muhammad saw. di atas merupakan warning bagi kita untuk selalu memperbaiki diri setiap saat, setiap waktu. Ya, hari-hari yang kita lalui harus diisi aktivitas positif (amal saleh) yang terus mening- kat, baik dari sisi kualitas maupun kuantitasnya.

Keberuntungan hanya akan menghampiri orang- orang yang selalu memperbaiki kualitas dirinya. Kualitas diri dalam pengertian yang seluas-luasnya. Dalam diri kita terdapat kualitas intelektual, emosional dan spiritual.

Maka, jika kita mengharap keberuntungan dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, tidak bisa tidak, kita harus selalu meningkatkan kualitas intelektual emosional dan spiritual kita setiap saat, setiap waktu.

Hari demi hari yang kita jalani harus dijadikan kesempatan untuk meningkatkan tiga kualitas yang ada di dalam diri kita tersebut.

Intelektual kita harus terus diasah dengan lmu pengetahuan, melalui be- ragam bacaan yang bergizi, informasi terkini seputar isu-isu aktul di sekitar kita. Emosional kita harus terus ditempa dengan sikap empati terhadap sesama, peduli dengan orang lain, peka terhadap lingkungan sekitar.

Spiritual kita harus terus di charge dengan aktivitas ibadah, mendekatkan diri kepada Tuhan me- lalui ritualitas ajaran agama, juga melalui perenungan (tadabbur) terhadap tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang terhampar luas di jagat raya ini. Memperbaiki diri setiap hari adalah sesuatu yang niscaya. Meski demikian, banyak di antara kita, bahkan mungkin diri kita sendiri sering tidak menyadari ba- nyak hal yang harus diperbaiki dalam. Kita lalai dan erlena untuk memperbaiki kualitas diri karena aktivitas hidup sehari-hari. Cara paling mudah untuk memperbaiki diri adalah dengan mengambil jeda dari rutinitas sehari-hari. Sisihkan waktu beberapa saat untuk introspeksi diri (muhasabah, melihat ke dalam diri tentang apa saja yang masih perlu dibenahi dan diperbaiki. Kita bicara dengan hati nurani kita. Biasanya, hati kita akan ber- kata jujur tentang kekurangan kita Cara lain untuk memperbaiki diri adalah dengan meminta pendapat orang-orang yang dekat dengan kita.

Apakah itu pasangan hidup kita, orang tua kita, atau mungkin anak anak kita. Kita meminta mereka untuk menunjukkan sikap, perilaku serta kebiasaan kita yang perlu dibaki Dengan cara seperti ni biasanya kita akan sadar dan membuka mata tentang kekurangan kita. Dengan demikin, kita akan bangn dari tidur panjang yang melenakan.

Kita akan bangki ntuk egera membenahi kekuranga diri kita. Schingga, wak tu demi waktu yang kita lalui hanya berisi perbaikan demi perbakn di. nilah yang disebut oleh Nabi saw melalui sabdanya di atas dengan keberuntungan Sebaliknya, ika hari dei hari kita lalui tanpa perubahan kualitas diri, tidak ada sedikit pu ningkatan k nelektual, emosional dan spiritual, maka kita termasuk orang orang yang merugi.

waku demi waktu berlalu tapa perbaikan diri. lerakhir, dan ini kondisi yang paling parah, Nabi saw. menyebutnya dengan orang yang celaka yaitu mereka ya leti hari demi hari dengan penurunan kualitas diri, Intelektualitas, emosional ser ta spritualitas mereka semakin Tidak ada gi semangaumenggali imu pengetahuan tdak peduli dengangkungan sekitar, dau dari ajaran againia Secara sada dengan pikiran yang en dan hati untuk berada pada yang bersih, k beharap kelompok pertama, angog yang beruntung. Tetapi kesadaran saja tentu tidak cukup, tanpa ada tindakan nyata.

So, mari perbaiki diri setiap hari, tingkatkan ku- alitas intelektual, emosional dan spiritual setiap saat, agar hidup lebih bermakna.

Menebar manfaat setiap hari

Susunan redaksi hadis Nabi saw. di atas sangat singkat. Tetapi, dari sisi makna, sungguh menyimpan pesan yang sangat luar biasa.

Jika kita renungkan secara mendalam makna yang terkandung di dalam hadis tersebut, tidaklah sesingkat dan sesederhana susunan redaksinya.

Ada nilai yang sangat tinggi, ajaran yang sangat agung nan mulia yang hendak disampaikan Rasulullah saw, melalui hadis tersebut. Ya, kehadiran kita di muka bumi ini, tidak lain untuk mengabdi kepada Sang Khalik-menjalin hu bungan yang harmonis dengan Nya: melalui ibadah ibadah mahdlah (ritual)-, dan berkhidmah kepada sesama, dengan menebar manfaat sebanyak-banyaknya melalui ibadah-ibadah sosial.

Pengabdian kepada Sang Khalik, berupa kesalehan ritual hanya bermanfaat untuk diri sendiri, sedangkan khidmah kepada sesama berupa kesalehan secara sosial akan menghadirkan manfaat yang jauh lebih luas, ti- dak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk umat manusia.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk meng hadirkan manfaat kepada sesama, sesuai dengan ke- mampuan serta posisi kita masing-masing dalam ranah sosial. Jika kita adalah seseorang yang tengah mendapat amanat memegang kekuasaan, maka kita bisa ber- khidmah untuk menghadirkan manfaat kepada sesama melalui kekuasaan yang sedang kita pegang.

Buatlah kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat secara luas, tidak mementingkan diri kelompok tertentu. Jika kita adalah seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah Swt., maka kita bisa menebar manfaat de ngan ilmu yang kita miliki, baik melalui pendidikan dan pengajaran secara langsung di ruang-ruang kelas perkuliahan, forum-forum ilmiah, majelis taklim mimbar-mimbar khutbah, maupun secara lang sung dengan menulis karya berupa buku-buku yang menggugah, memotivasi dan mencerahkan umat se hingga menjadi lebih baik. Jika kita adalah seseorang yang dianugerahi ke kayaan berupa materi yang melimpah oleh Allah Swt.

maka kita bisa menghadirkan manfaat kepada sesa dengan berbagi kebahagiaan, memberikan infak dar sedekah, menyantuni fakir miskin, menjadi orang tua asuh untuk anak-anak yatim, menjadi donatur teta lembaga-lembaga pendidikan, panti asuhan, yayasan- yayasan sosial, serta aktif dalam memberikan dana untuk kegiatan dakwah yang menggugah kesadaran manusia untuk terus berada di jalan kebaikan.

Singkatnya, ada seribu satu macam cara untuk menebar manfaat setiap saat, menghadirkan kebaikan untuk sesama, sesuai dengan kemampuan, keilmuan kekayaan, serta jabatan yang kita miliki. Bukankah Tuhan sangat senang jika hamba-Nya selalu berbuat baik dan bermanfaat untuk orang lain? Bukankah kita juga senang ketika ada orang yang se- lalu menebar manfaat serta berbuat baik untuk sesama?

So, tebarlah manfaat setiap saat, maka hidupmu akan selamat, dunia-akhirat.

Fawazgates.com

Perbaiki diri setiap hari

fawazgates.com

Nikmat yang terbaikan

Melalui hadis Nabi Muhammad saw. mengi- ngatkan betapa seringnya kita melupakan dua anuge- rah besar yang Allah berikan kepada kita, yakni nik- mat sehat dan nikmat waktu luang.

Sehat terasa begitu nikmat, justru ketika kita te ngah terbaring sakit. Waktu luang terasa begitu ber- harga, justru ketika kita dalam kondisi sempit. Inilah kenyataan yang sering kita alami.
Ketika tubuh kita sehat, raga kita bugar, seluruh aktivitas berjalan lancar, kita terlena dan terbuai se- hingga abai menjaga kesehatan. Ketika waktu luang terbentang, kesempatan silih berganti datang, kita ber santai ria dan bermalas-malasan hingga lupa diri dan lupa daratan.

Tibalah waktunya, tubuh kita meminta rehat, raga kita butuh istirahat, sementara aktivitas semakin padat.

Kita pun tercekat. Namun apa daya, semua suda lambat. Kita pun tersadar, selama ni kita lupa lalai menjaga kesehatan.

Tibalah saatnya, waktu terasa sempit, sementara beragam persoalan datang mengimpit. Kita pun terba ngun dari tidur panjang. Selama ini, waktu luang yang terbentang, kesempatan yang selalu datang, kita biar kan begitu saja hilang. Kita pun tersadar, selama ini kita abai, terlena dan terbuai. Hanya sesal yang kita dapat, karena waktu tak akan pernah bisa kembali.

Sobat, hidup ini singkat. Sehat dan sempat adalah nikmat yang harus kita jaga agar dapat memberi manfaat. Jangan biarkan kesehtan berlalu tanpa mak berganti sakit yang datang mendera. Jangan biar- kan kesempatan hilang tanpa arti, berganti kesempitan yang datang silih berganti.

Mumpung raga masih sehat, ibadahlah yang taat, jauhi maksiat, cari ilmu sampai dapat, susunlah mimpi mimpi yang hebat, wujudkan dengan penuh semangat, sebagai bekal hidup di dunia dan akhirat.

Mumpung masih ada kesempatan, dekatkan diri kepada Tuhan, hindari kejahatan, penuhi diri dengan kebaikan, perluas pergaulan, berkarya untuk kema nusiaan, sebagai beka meraih kebahagiaan di hari ini dan hari kemudian.

Sobat, Tuhan tidak akan pernah mengubah yang sehat menjadi sakit, yang lang menjadi sempit. Kita sendirilah yang mengubah semua itu. Kesehatan yang kita jaga, akan tetap berada di tempatnya. Waktu luang dapat kita manfaatkan, akan menjadi peluang yang sangat menjanjikan.

Sungguh sangat disayangkan, jika kesehatan yang Tuhan berikan justru kita abaikan. Hingga akhirnya, sakit itu pun datang. Sungguh sangat rugi jika waktu luang yang Tuhan hadirkan justru kita lalaikan. Hingga akhirnya, sempi itu pun menghadang.

Betapa banyak orang yang berkelimpahan harta, tetapi tidak dapat menikmati indahnya dunia, tidalk dapat merasakan nikmatnya makanan dan minuman yang menggugah selera, disebabkan kesehatannya yang tak mengizinkannya.

Tidak sedikit pula orang yang ketika menginjak masa tua, alih-alih menikmati sisa hidupnya dengan penuh ketenangan, tetapi justru masih disibukkan dengan masalah keuangan (ekonomi) keluarga, karena ketika muda ia bermalas-malasan tidak mau bekerja.

Ada yang lebih parah lagi Mereka adalah orang orang yang baru tersadar bahwa hidup ini singkat, justru ketika ajal sudah mendekat, sementara bekal hidup di akhirat belum sempat didapat.

Sobat, mari kita mengingat kembali pesan Nabi Muhammad saw. di atas, agar kesehatan yang kita miliki tidak hilang dari diri. Mari kita camkan peri ngatan Rasulullah saw. di awal tulisan ini, agar waktu luang yang kita punyai tidak berlalu tanpa arti.

Kesehatan dan kesempatan adalah nikmat tak terhingga. Jangan abaikan. Jangan lupakan... Jangan lalaikan.

Waktu yang telah berlalu

Hasan al-Bashri dalam sebuah kesempatan pernah berkata, "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, apabila berlalu satu hari maka berlalu pula bagian darimu.'"
Tepat sekali pernyataan Hasan al-Bashri tersebut. Kita ini bagian dari hari. Hidup kita ini selalu diliputi oleh waktu, dan tak pernah lepas darinya. Dalam menjalani kehidupan ini, sejak kita bangun tidur hingga tidur lagi, selalu disertai oleh detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Tidak pernah kita dapat melepaskan diri dari waktu.

Meski kita diam seharian, waktu tetap bergerak dan berjalan. Waktu tidak pernah kompromi. Apakah kita tengah diliputi rasa suka cita ataukah duka cita, waktu terus berlalu. Apakah kita memenuhi hari-hari dengan dosa dan maksiat ataukah dengan amal shalih, waktu tetap berjalan. Ketika sang waktu telah beranjak dari kehidupan kita, maka sampai kapan pun ia talk akan pernah kembali lagi. Lan tarjia al ayyam al-lati madhat, sungguh tidak akan pernah kembali lagi hari hari yang telah berlalu. Demikian sebuah syair dalam bahasa Arab menyebutkan.

Persoalannya adalah apakah waktu-waktu yang telah berlalu kita isi dengan aktivitas positif, amal sa leh, serta goresan tinta emas, ataukah justru kita pe- nuhi dengan lembaran-lembaran kelam serta catatan hitam dosa-dosa kita?

Kita tentu sering mendengar ungkapan: "Penyesalan selalu datang terlambat." Jika kita mengisi masa lalu kita dengan hal-hal yang sia-sia, apalagi berdampak buruk bagi diri kita, lebih-lebih terhadap orang lain tentu kita akan menyesal. Dan tentu, penyesalan itu baru datang setelah kita menyadari kesalahan kita tersebut

Sebaliknya. jika masa lalu kita, hari-hari yang te lah kita lewati kita dengan hal-hal positif, dengan catatan prestasi, dan juga serangkaian kesuksesan, tentu kita akan mengenangnya dengan penuh suka cita.

Untuk menghindari penyesalan yang selalu datang terlambat, maka alangkah bijaknya jika kita selalu
berpikir dulu sebelum bertindak, karena sesal kemu- dian tiada guna. Adapun jika kita sudah terlanjur melakukan tindakan di masa lalu membuat kita menyesal saat ini, maka tidak ada cara lain yang dapat lakukan selain bertobat, yaitu memohon ampun kepada Allah Swt., mengakui dosa-dosa kita di masa lalu, disertai niat untuk memperbaiki diri, dengan terlebih dahulu membuat komitmen dengan diri sendiri untuk tidak mengulanginya di kemudian hari.

fawazgates.com

Waktu yang telah berlalu

Fawazgates.com

Memaafkan tanpa dedam

Di antara ciri orang bertakwa menurut Al-Qur'an, sebagaimana disebut dalam QS. Ali Imran: 134 adalah "al-afiina an al-naas", yaitu orang yang memaafkan kesalahan orang lain.

Ya, memaafkan kesalahan orang yang telah me- nyakiti hati, menyinggung perasaan, serta merendah kan harga diri kita sama sekali bukan hal yang mudah dan ringan. Sungguh, sangat sulit dan berat. Apalagi jika yang melakukannya adalah orang yang kita kenal dekat, bahkan mungkin sangat dekat dengan kehidup- an kita. Sungguh, hanya orang-orang yang berjiwa besar saja yang mampu melakukannya. Itulah mengapa, memaafkan kesalahan orang lain yang pernah menzalimi kita, menjadi salah satu ciri serta karakter orang-orang yang bertakwa.

Islam mengajarkan agar kita semua memiliki sifat pemaaf. Karena dengan memaafkan, maka hilanglah rasa dendam dalam diri kita, jiwa menjadi tenang batin pun tenteram. Lebih dari itu, sifat pemaaf akan mengantar seseorang mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia di hadapan Allah. Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah saw.

menegaskan tentang mulianya sikap memaafkan. "Tidaklah Allah Swt. menambah kepada seorang hamba karena (pemberian) maafnya kecuali kemuliaan, dan tidaklah pula seseorang bersikap tawaduk kecuai Allah Taala akan meninggikannya." (Riwayat Muslim).

Sifat pemaaf hanya dimiliki oleh orang-orang yang berjiwa besar, berakhlak mulia dan berbudi pe- kerti luhur. Orang orang sombong, angkuh dan se nang membanggakan diri sulit untuk bersikap mulia seperti itu.

Menurut peneliian sejumlah ilmuwan Amerika tentang sikap pemaaf, dibuktikan bahwa mereka yang mampu memaafkan adalah lebih sehat, baik jiwa mau pun raganya dibandingkan dengan mereka yang selalu menyimpan bara dendam dalam hatinya. Dr. Frederic Luskin, yang mendapat gelar Ph.D dalam bidang Konseling dan Kesehatan Psikologi dari Universitas Stanford, dalam bukunya Forgive for Good, menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah ter- bukti bagi kesehatan dan kebahagiaan.

Buku hasil penelitiannya tersebut memaparkan bagaimana sifat maaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesenangan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres. Menurut Dr. Luskin, kemarahan yang dipelihara menyebabkan dampak ragawi yang dapat teramati pada diri sesorang. Sikap mudah tersing gung, perasaan gelisah, ketidakstabilan jiwa ada lah beberapa dampak yang dapat diamati pada diri seseorang yang selalu memendam kemarahan. Kondisi seperti ini. jika dibiarkan berlarut-larut, akan mem buat seseorang tidak mampu berpikir jernih, serta memperburuk keadaan.

Dr. Danial Zainal Abidin dalam bukunya Al Quran for Life Excellence, mengutip sebuah penelitian dilakukan oleh Dr. Herbert Benson terhadap 1.500 orang, ditemukan bahwa kegundahan hati. stres serta penyakit mental jarang terjadi pada mereka yang berpegang teguh pada agama. Beliau menyimpulkan bahwa hal ini disebabkan oleh agama yang meng. ajarkan dan menganjurkan kepada para penganutnya untuk saling memaafkan satu sama lain.

Dari beberapa keterangan di atas, baik dari sudut pandang agama maupun kaji ilmiah, erlih jelas bahwa memaafkan, selain merupakan wujud akhlak mulia seseorang yang akan menjadikannya terhormat dan mulia di hadapan Allah dan man,uga men jadikan seseorang lebih dapat menikmati hidup. Ke sehatan fisik terjaga, ketenangan batin dan kedamaian jiwa terasa, serta kebahagiaan menjadi nyata. Apalagi yang dibutuhkan seseorang ketika hidup di dunia fana ini, selain kesehatan jasmani dan ruhani yang sempur- na? Dunia terasa indah, hidup pun terasa nikmat jika kebutuhan dua aspek penting dalam diri ini, yaitu jasmani dan ruhani terpenuhi.

Sesal kemudian tidak berguna

Kita tentu sering mendengar keluhan orang-orang yang menyesali kehidupan masa lalunya karena tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik.

"Coba dulu waktu kecil saya belajar ngaji, tentu setelah dewasa seperti ini saya sudah mahir mengajar, demikian keluh seorang kawan. "Saya menyesal, kenapa waktu muda dulu saya malas-malasan, tidak mau bekerja keras sehingga di masa tua sekarang saya masih dibelit ma salah ekonomi yang tak kunjung selesai, kata seorang tetangga yang usianya sudah tidak muda lagi. "Kalau tahu dari dulu enak seperti ini, saya tidak akan me nunda-nunda untuk menikah..." he.he.

kalau yang ini candaan seorang teman yang baru menikah setelah usianya melewati kepala tiga. Sederet keluhan dan rasa penyesalan tentang ke hidupan masa lalu, yang sering dilontarkan oleh orang di sekeliling kita, atau mungkin oleh kita sendiri, pokok persoalannya adalah karena mereka atau kita tidak dapat memanfaatkan waktu dengan baik dan maksimal.

Seandainya kita mampu memanfaatkan tiap detik dalam kehidupan ini dengan baik dan maksimal, tentu tidak akan pernah ada kata-kata penyesalan tersebut. Di dalam Al-Qur'an terdapat satu surah yang me- nunjukkan betapa manusia akan mengalami kerugian secara total, jika tidak dapat memanfaatkan waktu secara maksimal.

Surah al-Ashr ayat 1-3 menegaskan akan hal itu: "Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan na- sihat menasihati supaya menetapi kesabaran."

Dari keterangan ayat tersebut dapat kita ketahui betapa berharganya waktu, betapa bernilainya masa betapa pentingnya kesempatan. Dari ayat tersebut juga kita dapat mengetahui bahwa sesungguhnya setiap ma nusia berpotensi untuk mengalami kerugian, kegagal an, kekecewaan bahkan kesengsaraan. Sebaliknya, ada manusia yang tidak akan mengalami kerugian, tetapi justru akan mendapat keuntungan, kesenangan dan kebahagiaan. Dengan kata lain, waktu akan menun- jukkan siapa yang akan menjadi pecundang dan siapa pula yang akan menjadi pemenang. Jika menilik keterangan dari surah al-Ashr ayat -3 di atas, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan besar, yaitu hanya ada dua kelompok manusia di dunia ini dan di akhirat kelak. Kelompok pertama adalah golongan orang-orang yang merugi, menyesal, kecewa sengsara, kalah, atau menjadi pecundang.

Inilah yang kemudian disebut sebagai golongan kiri (ashhabu asy- syimal). Kelompok kedua adalah golongan orang orang yang beruntung. bahagia, senang atau menjadi pemenang. Inilah yang kemudian disebut sebagai golongan kanan (ashhabu al-yamin). Layaknya dalam sebuah kompetisi yang selalu saja menghadirkan sosok pecundang the loser) dan pemenang (the winner), dalam kehidupan ini pun demikian adanya.

Akan selalu hadir di muka bumi ini sosok antagonis, orang-orang jahat, para pendosa yang meng isi kehidupannya dengan segala bentuk perangai bu- ruk; kekufuran, kesombongan, keserakahan, kedengkian, dan berbagai sifat buruk lainnya.

Namun demikian, hadir pula di muka bumi ini sosok protagonis, orang orang baik, para bijak bestari yang mewarnai kehidup- annya dengan beragam perilaku positif: keimanan, kerendahan hati, kesabaran, kesantunan, kemurah hatian, serta pelbagai perilaku positif lainnya. Para pecundang adalah orang-orang yang tidak memanfaatkan setiap kesempatan yang datang kepada nya.

Dia abaikan dan biarkan kesempatan itu pergi Padahal, sebagaimana sering diungkapkan bahwa sempatan itu seringkali tidak datang untuk kedus ka- linya. Orang-orang seperti ini tentu akan menyesali keadaannya.

Padahal, penyesalan di kemudian hari itu tiada berguna. Untuk dapat terhindar dari kondisi demikian, maka setiap kali ada kesempatan yang datang kepada kita, yang sesuai dengan cita-cita dan keinginan kita maka harus segera kita ambil kesempatan tersebut. Dengan demikian, keinginan untuk mewujudkan cita cita kita semakin mendekati kenyataan.

Dengan usaha yang sungguh-sungguh, insya Allah cita-cita serta keinginan kita akan segera terwujud.

Fawazgates.com

Memaafkan tanpa dendam

Fawazgates.com
Kita tentu sering mendengar keluhan orang-orang di sekitar kita atau mungkin diri kita sendiri tentang beratnya menjalani kehidupan Mungkin kondisi ekonomi yang sulit harga-harga kebutuhan pokok yang melonjak tinggi biaya pendidikan dan kesehatan yang mahal serta berbagai persoalan lainnya yang menambah persoalan penderitaan.

Ya Hidup ini memang terasa susah jika kita menghadapinya dengan keluh kesah hidup pun akan terasa berat Jika iman dalam diri ini tidak kuat Hidup akan terasa sulit menyempit jika cara pandang kita terhadap Hidup ini terlalu sulit sebaliknya Hidup akan terasa mudah jika kita menjalaninya dengan penuh gairah hidup akan terasa nikmat Jika iman dan ilmu kita kuat Hidup akan terasa bebas dan lepas jika kita menghadapinya dengan ikhlas tanpa batas. Ikhlas dalam menjalani hidup dengan pengertian bahwa kita sadar sepenuhnya ada yang Maha Mengetahui kehidupan ini yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita berhak untuk menyusun rencana sesuai dengan keinginan kita tetapi jangan lupa ada yang maha memutuskan Maha menentukan apakah rencana kita bisa berjalan dengan baik atau tidak dialah yang Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-nya dia Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Mungkin dalam keadaan kita rencana yang sudah tersusun secara matang adalah yang terbaik untuk kita dan pasti sukses Tetapi dia tidak ada izin dari yang maha kuasa menentukan Maha memutuskan yakin Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka rencana yang sudah kita susun secara matang tersebut sangat mungkin gagal dan berantakan.

Apa itu baik belum tentu baik menurut Allah bisa jadi itu sesuatu yang buruk bagi kita menurut Allah apa yang kita anggap buruk bisa jadi yang terbaik buat kita menurut Allah. Dalam buku the science & miracle of zona ikhlas, erbe sentanu, penulis buku menguraikan secara apik Sisi ilmiah sikap ikhlas disertai keajaiban-keajaiban yang melingkup pelakunya.

“ nikmati air mata yang menetes membasahi Pipi sebagai tanda bahwa kita memang bukan membasahi Pipi sebagai tanda bahwa kita memang bukan makhluk yang sempurna meski demikian luput dengan luput dalam tangis jangan berlama-lama Dalam Duka karena kita memiliki Yang Maha Sempurna hapus sedihmu air matamu segera sandarkan diri kepada yang maha memberi solusi.”

Menurutnya sikap ikhlas akan membuat seseorang secara alami lebih bersemangat orang yang secara sadar atau tidak menjadikan ikhlas sebagai strategi Hidupnya akan selalu diliputi kedamaian kebahagiaan dan kemuliaan hal ini terjadi menurutnya karena ketika seseorang ikhlas berserah diri sesungguhnya iya sedang melaraskan pikiran dan perasaannya dengan kehendak tuhan yang menghasilkan kolaborasi niat yang luar biasa pada level Quantum di zona ikhlas saat itu terjadi kemudahan dari Tuhan yang berupa keajaiban seringkali hadir dengan sendirinya.

Mengutip sejumlah penelitian ilmiah tentang kuantum yaitu dunia yang tidak yang tidak lokasi dan tidak mengenal ruang dan waktu menurut penulis buku menyimpulkan bahwa zona ikhlas ada di dunia ini yaitu dunia Quantum di zona ini tidak berlokasi namun terpadu ini rasa keterpisahan dan perbedaan semakin tak kentara.

Rasa yang mengalir membuat kita lebih inovatif mudah mendapatkan solusi sekaligus merasakan kebahagiaan itulah Mengapa seseorang yang diliputi perasaan ikhlas dalam dirinya akan merasakan kehidupan yang damai tenang dan bahagia lebih dari itu seseorang yang selalu menjaga perasaan iklasnya akan mendapatkan keajaiban dalam hidupnya. Maka jalani hidup penuh dan keikhlasan ikhlas Tanpa Batas maka hidup akan terasa lepas dan membahagiakan.

Rendah hati sepenuh hati Ilmu dan adab adalah perhiasan yang terbaik yang akan memancarkan pesona diri tidak perlu mempercantik diri dengan ucapan manis Penuh Kepalsuan atau memakai topeng sebagai pembohong dengan memaksakan diri mengenakan pakaian yang bagus kendaraan terbaru tinggal di hunian bagus untuk menarik perhatian orang lain cukup dengan Hiasan berupa ilmu dan akhlak maka orang lain akan menaruh Simpati pada kita.

Salah satu sikap orang berilmu dan beradab adalah rendah hati karena rendah hati akan menjadikan seseorang dicintai sesama dan disayangi oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebaliknya keadaan tinggi hati atau sombong akan membuat seseorang dibenci sesama dan dimurkai Allah.

Jika dengan sikap rendah hati Allah akan mengangkat derajat seseorang maka bisa dikatakan bahwa dengan sikap tinggi hati Allah akan menjatuhkan drajat seseorang tersebut.

Jika dengan sikap rendah hati Allah akan memuliakan seseorang maka dengan tinggi hati Allah akan menghinakan seseorang tidak ada ruang Bagi siapapun di muka bumi ini untuk bersikap sombong atau tinggi hati warna yang berhak untuk menyandang gelar Al mutakabbir hanyalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Adalah kewajiban bagi setiap hamba untuk bersikap tawaduk atau rendah hati Betapapun melimpahnya kekayaan yang dimilikinya Betapapun tingginya ilmu memiliki Betapapun kehormatan jabatan yang dia duduki hakekatnya semua itu adalah anugerah serta amanah yang diberikan kepadanya ia sendiri tidak memiliki yang mempunyai apa-apa tanpa karunia Alla yang diberikan kepadanya.

Maka tawadhu’ lah rendah hati lah maka engkau akan terhormat di sisi manusia, dan mulia dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Fawazgates.com

Rendah sepenuh hati

fawazgates.com

Syukur tak terukur

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu salah seorang sahabat terdekat rasulullah yang juga sepupu beliau karena ia putra dari paman Rasulullah Abbas bin Abdul Muthalib suatu ketika ditanya oleh seorang tabiin tentang tanda kebahagiaan atas pertanyaan tersebut beliau menyebut sejumlah tanda kebahagiaan dan yang paling utama menurut beliau adalah hati beliau selalu bersyukur.
Apa yang disampaikan oleh sahabat terdekat yang juga kerabat Rasulullah tersebut patut Kita Renungkan secara mendalam Mengapa rasa syukur menjadi salah satu tanda kebahagiaan Mari kita kaji dalam artikel kali ini.

Seorang pakar bahasa Alquran dalam karyanya menjelaskan bahwa kata syukur mengandung arti tentang gambaran dalam tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.

Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa syukur terdapat tiga macam yang pertama syukurnya hati berupa penggambaran nikmat kedua syukur nya lisan berupa pujian kepada pemberi nikmat dan yang ketiga syukurnya anggota tubuh yang lain dengan mengimbangi nikmat itu menurut kadar kepantasan nya.

Senada dengan beliau Al Ghazali dalam bukunya menjelaskan bahwa syukur mencakup tiga hal yang pertama syukur dengan hati yang kedua syukur dengan lisan yaitu menampakan syukur kepada Allah dengan segala bentuk pujian dan yang ketiga syukur dengan anggota badan yaitu menggunakan nikmat Allah  itu di jalan yang diridhoi dengan taat kepadanya dan menjauhi segala larangannya.
Dari penjelasan para ulama tentang pengertian serta macam bentuk syukur tersebut dapat disimpulkan bahwa rasa syukur adalah sebuah bentuk pengakuan atas nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita dengan pengakuan dalam hati dan menyatakan dengan lisan melalui kalimat tauhid dan Tahmid serta membuktikan dengan perbuatan Melalui aktivitas berupa positif.

Sikap syukur adalah salah satu sikap orang-orang yang bertakwa dalam sejumlah ayat di Alquran disebutkan bahwa secara untuk menggapai Kebahagiaan adalah dengan menjadi orang-orang yang bertakwa.

Dari keterangan ini dapat dipahami ungkapan Ibnu Abbas radhiallahu Anhu bahwa salah satu tanda Kebahagiaan adalah hati yang selalu bersyukur artinya ketika hati bersyukur lisan dan bersyukur serta seluruh anggota badan juga bersyukur maka Kebahagiaan akan hadir dalam kehidupan seseorang.
Dengan mensyukuri nikmat sehat nikmat sempat dan nikmat seluruh nikmat yang kita alami dan rasakan menjadikan hidup kita berlimpah berkah.

Ya syukur tak terukur Tanpa Batas adalah salah satu cara untuk menggapai kebahagiaan tanpa jeda bahagia sepanjang masa.

Sabar sepenuh sadar

Sabar sebuah kata yang sangat mudah diucapkan bahkan lebih muda dari membalikkan telapak tangan tetapi sangat sulit dilakukan orang Jawa bilang mudah diucapkan namun berat dilaksanakan.
Sabar itu memang tak mudah tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan saya sebagai penulis yakin kita semua mampu bersikap sabar Kalau mau terus-menerus belajar dan berlatih setiap hari sepanjang waktu untuk dapat bersikap sabar itu memang butuh proses dan pilihan yang Tak Kenal lelah dibutuhkan kekuatan yang luar biasa dalam diri kita untuk bisa bersikap sabar.

Kesabaran itu membutuhkan kebesaran jiwa kelapangan dada kejernihan hati dan yang tak kalah penting adalah kesadaran orang yang sadar tentang Siapa dirinya maka dia akan lebih bisa mengontrol sikap dan perilakunya seorang anak yang sadar posisinya dia akan sangat memuliakan orang tuanya meski mungkin tidak jarang dia sering tidak sependapat dengan orang tuanya seorang hamba yang sadar tentang Siapa dirinya akan mampu bersikap sabar atas ujian dan cobaan yang datang dari Tuhan sabar sepenuh sadar akan menjadikan seseorang tenang menjalani hidup yang penuh warna-warni.

Orang-orang yang bersabar adalah mereka yang memiliki cadangan energi luar biasa di dalam dirinya Bagaimana tidak orang yang sabar itu mampu menahan diri untuk melakukan sesuatu disaat sebetulnya Dia sangat mampu melakukannya misalnya ketika dia merasa tersinggung dengan ucapan seseorang dan dia ingin meluapkan amarah tetapi dengan sepenuh sadar dia tahan amarah nya agar kondisi tidak diinginkan tidak terjadi Nah bisa seperti itulah ketika dia mampu bersabar dan menahan diri sesungguhnya dia mampu bersabar dan menahan diri karena memiliki energi yang luar biasa dalam dirinya yang tidak semua orang memilikinya.

Dalam hal ini untuk menggapai impian dan cita-cita dibutuhkan sikap sabar sepenuh sadar tanpa kesabaran sepenuh kesadaran maka impian dan cita-cita hanya akan tetap menjadi impian dan cita-cita tanpa pernah terwujud.

Ikhtiar secara maksimal dengan mengerahkan seluruh potensi yang dimiliki dalam diri disertai sikap sabar dan doa yang terus-menerus dipanjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala serta kepasrahan diri sepenuh hati kepada sang pencipta adalah kunci kesuksesan meraih kesabaran.

fawazgates.com

Syukur tak terukur & Sabar sepenuh sadar